Cangkir Plastik Merindukan Air Putih


        Cangkir plastik yang dulu kosong dan belum terpakai, pernah terisi air putih. Air putih nan jernih itu dengan tenang dan nyaman berada dalam cangkir plastik itu. Air itu tidak pernah mengharapkan berada dalam gelas yang mewah. Cangkir plastik itu pula tidak pernah mengharapkan diisi dengan air berwarna, air putih itu telah cukup membuat ia nyaman.
        Singakat cerita pertemuan mereka semakin lama semakin hambar, entah siapa yang mesti disalahkan. Mungkin air itu tidak pernah terpakai hingga terlalu lama berdiam dalam cangkir tanpa penutup. Debu dan berbagai kotoran kecil masuk kedalamnya. Air yang dulu jernih berubah keruh kekuningan dan aroma tidak sedap muncul bersamanya.
        Air dalam cangkir plastik itu tumpah berceceran mencari perlindungan dan bersembunyi dalam celah-celah retakan. Air dan cangkir terpisah, cangkir tertiup angin jauh dan semakin jauh sedangkan air hilang entah kemana rimbanya. 
        Air itu kini telah hilang, cangkir plastik sederhana yang dulu belum pernah sama sekali terpakai kini jadi barang bekas tidak terawat, air hujan bebas keluar masuk cangkir itu. Ketika matahari sedang menampakkan kegagahannya dengan congkak mencekik cangkir itu hingga tidak berdaya. Cangkir itu semakin lemah, raganya semakin memburuk dan terpuruk. Cangkir itu pecah seketika, hanya menyisakan puing-puing kecil. 
        Disaat-saat terakhir cangkir plastik sederhana itu tidak ada air yang menemaninya. Air yang dulu pernah mengisi salah satu tempat terbaiknya kini tinggal cerita dan pergi tak akan kembali. 


Penulis
Akfil Zuliandri
Guru SMA I Muara Tiga, Kab. Pidie
Alamat jalan musolla no 7 Desa Pasar Paloh Padang Tiji, Kab. Pidie

0 Response to "Cangkir Plastik Merindukan Air Putih"

Posting Komentar